“Meruang” adalah sifat karya Jompet Kuswidananto, yang selalu megah, meluas, menyebar, menyaru dan beradaptasi. Bentuk karyanya dinamis, sebagian sudut karyanya tidak bisa diulangi di ruang lain. Yang mungkin bahkan tidak pernah sama di setiap tempat.
Heri Pemad adalah seniman display, ketika melihat karya ide pertama dari benaknya adalah “karya ini cocok di ruangan seperti ini.”
Sensibilitas ruang adalah bakatnya dan kenyamanan karya adalah prioritasnya. Maksudnya, Heri Pemad mampu menciptakan ruang yang sesuai dengan sifat karya baik dengan cara mengubah keseluruhan ruang atau sebaliknya yaitu, sekadar memberikan aksentuasi artistik dan selebihnya memanfaatkan sifat naturalnya.
Sehingga, rancangan tata pamernya bisa membangun bahkan membicarakan karya dengan sendirinya tanpa harus selalu meminta bantuan pihak ketiga.
Jompet Kuswidananto dan Heri Pemad seperti pertemuan dua manusia berdaya imajinasi ke-ruang-an. Jompet dengan karyanya yang "menjadi ruang" dan Heri Pemad yang berupaya "menghidupkan dan membahasakan ruang".
Dalam pameran tunggal Jompet berjudul "Arak-Arak" sebagai program Road to ARTJOG 2025 yang kali ini terlaksana di Pasar Tunjungan, Surabaya. Tepatnya di lantai paling atas yang lama terbengkalai dan hampir roboh, display Heri Pemad adalah karya tersendiri.
Catatan ini tidak hendak membahas alasan Heri Pemad memilih ruang terbengkalai untuk menempatkan karya Jompet Kuswidananto. Melainkan pengupasan interpretasi akan plotting, dramaturgi dan aksentuasi cahaya di beberapa sudut ruang dan karya.
Heri Pemad kali ini merancang ruang model spiral untuk karya Jompet. Ruang spiral dalam display bersifat menuntun para apresiator untuk melihat karya secara berurutan. Ruang spiral ini dimaksudkan Heri Pemad memiliki dua fungsi penting yaitu untuk “menyimak peristiwa secara diakronik” dan “adanya inti waktu yang menciptakan pusaran”.
Dua fungsi ruang spiral itu memiliki sinkronitas dengan tulisan Ayos Purwoaji sebagai penulis pameran ini, dia menuliskan pameran ini adalah “Pernyataan sekaligus perjalanan lintas waktu Jompet Kuswidananto”. Perihal inti pusaran Ayos menuliskan akan adanya “garis waktu imajiner yang berpangkal pada sejarah kolonial” pangkal ini menjadi inti karya Jompet sebelum bergerak memusar dan melebar dalam ruang.
Sebagai awalan, Heri Pemad memulai dramaturgi display dengan karya tertua Jompet. Posisi karya ini seperti difungsikan Heri Pemad sebagai "gerbang tua" untuk menyambut, sekaligus mengingatkan bahwa Tunjungan adalah situs sejarah tua yang perlu diberdayakan.
Jompet dengan tegas mengatakan bahwa karyanya tidak ada niatan untuk menjinakkan ruang. Heri Pemad merespon hal itu dengan artistik.
Plafon atap lantai tiga Tunjungan telah berjatuhan, bahkan sebagian sudut langit-langit sudah runtuh. Sehingga secara visual lanskap bagian atas ruang akan didapati spot-spot gelap. Heri Pemad tidak menutup atau memperbaikinya. Melainkan memberikan lampu berwarna biru keunguan dalam beberapa spot gelap. Warna lampu memunculkan nuansa sendu mistis sehingga menjadi aksentuasi display yang justru mempertegas karakter ruang yang wingit karena lama terbengkalai, begitupun karya Jompet yang bernuansa serupa.

Pameran "Arak-arak"; ruang yang tepat, seniman yang tepat, tata karya yang tepat. “After Voices” 2016 ( Foto: Dok. Ashari Ariya)
Selanjutnya adalah potongan karya “After Voices”. Heri Pemad hendak menampilkan kedetailan dari kompleksitas, juga sebagai "pengantar" sebelum menuju keriuhan karya sebenarnya.
Dengan cara salah satu figur dicabut, diplotting sendirian di pojokan, dibiarkan bersuara sendiri dengan memukul drum. Kesendirian karya ini membuatnya berdiri secara kuat sebagai sosok tunggal.
Ketika mendekat, kesendiriannya menciptakan ruang intim yang dapat membangun ikatan jiwa antara apresiator dan karya. Terlebih jika berhadapan secara empat mata, lama-kelamaan karya ini seakan meneror secara perlahan.
Setelah menyimak pengantar, apresiator akan langsung disuguhi keriuhan sebenarnya atas "pengantar" itu.
Karya “After Voices” membicarakan tentang kebebasan bersuara, Jompet merespon "kebebasan" dengan realisasi bentuk karya yang masif dan kompleks.
Heri Pemad tanpa diminta sudah paham atas proyeksi keruangan yang diinginkan karya ini. Plotting karya ini tepat di bagian sudut melengkung ruang spiral-nya. Ruang melengkung akan menciptakan kesan optical yang membesar atau cembung. Sehingga kemegahan dan keluasan karya akan tercapai, sekaligus dapat dinikmati dari segala arah.
“On Paradise #2” 2025, Glass, chandeliers, variable dimension.(Foto: Dok. Ashari Ariya)
Karya “On Paradise #2” ditempatkan Heri Pemad menjorok ke dalam dari kedatangan para apresiator. Pada mulanya apresiator akan merasa segan untuk mendekati. Sebab, susunan display karya sebelumnya yang lurus dan center membuat seperti adanya garis imajiner yang membatasi gerak apresiator.
Heri Pemad terasa sangat mafhum dengan sifat cahaya yang meminta untuk didekati dalam karya ini. Sebab, jika karya ini hanya dinikmati dari jarak jauh karena merasa dibatasi oleh garis imajiner maka karya ini sekadar menampilkan keindahan cahaya. Tapi, kalau para apresiator berani menembus batas garis imajiner itu akan didapati bahwa keindahan cahaya karya ini merupakan sebuah kehancuran chandeliers yang tidak beraturan.
Dalam ruang pameran terdapat setidaknya tiga poin penting untuk mendapat perhatian khusus supaya gairah para apresiator tetap terjaga bahkan meningkat yaitu, ruang awal, tengah dan akhir. Selebihnya bisa dikatakan ruang “katalisator”.
“After Voices” dan “On Paradise #2” notabene terletak di posisi tengah keseluruhan ruangan spiral–bukan pusat–begitupun dua karya instalasi sebelum “On Paradise #2” yang juga memiliki skala cukup besar. Jika diamati para apresiator cenderung menumpuk pada poin ini.
Ayos Purwoaji, Jompet Kuswidananto, Heri Pemad. (Foto: Dok. Ashari Ariya)
Penumpukan tersebut terjadi karena pada ruang awal dan menuju akhir tidak ada karya yang menggugah kekaguman. Terutama pada ruang awal yang berisi tiga karya instalasi, sebenarnya dalam tiga karya ini Heri Pemad perlu mempertimbangkan pada skala pengalaman visual masyarakat Surabaya bahwa mereka belum terbiasa dengan tipikal karya instalasi yang “sederhana”.
Ruang awal yang seharusnya menjadi gerbang penggugah gairah terlihat masih lesu, tapi selanjutnya gairah itu memuncak di ruang tengah. Kemudian dan sayangnya menjadi lesu kembali. Sebab di ruang menuju akhir terdapat instalasi bendera biru yang menari-nari tapi sayang kebagusan visual dalam konteks “spectacle” masih belum muncul. Kelesuan di akhir sebenarnya harus dilihat secara kritis sebab berpotensi menimbulkan antiklimaks.
Selebihnya Heri Pemad telah berhasil berkomunikasi dengan karya dan ruang hingga menemukan titik negosiasi yang membuat keduanya tidak saling mengalah dan justru saling berdialog. Ruang terbengkalai Pasar Tunjungan adalah tantangan tersendiri sebagai ruang display. Namun baginya ruang seperti ini merupakan salah satu habitat karya Jompet. Heri Pemad senantiasa memposisikan karya sebagai subjek hidup yang tidak boleh dikecewakan; "Jangan sampai karya itu kecewa" pungkasnya.