Tidak ada plastik di Pasar Papringan

Minggu pagi, 26 Mei 2024, kami berangkat menuju Kabupaten Temanggung, menempuh sekitar 2 jam perjalanan dari Yogyakarta, tujuannya adalah ke Pasar Papringan Ngadiprono. Pasar ini fenomenal bukan hanya sajiannya yang ‘lawasan’, lebih dari itu Pasar ini digagas sebagai upaya konservasi Desa, seperti menjaga alam, budaya dan membangun kedaulatan warga.

Fasilitas

Rekomendasi
Asyam Ashari

13-Jun-2024

Ngadiprono, Ngadimulyo, Kedu, Temanggung Regency, Central Java 56252

View Maps

Pukul 06:00 pagi, kabut sudah mulai naik, kami segera menuju kawasan Pasar Papringan. Rupanya, pasar belum resmi buka. Para pedagang masih mondar-mandir dari rumah ke lapaknya menyiapkan dagangan. Adapun pemain gamelan masih menata set alat musik mereka. Matahari tidak kunjung muncul pagi itu, mendung menutup kemungkinan sinar-sinar menyelinap masuk di sela-sela bambu.


Pasar Papringan mulanya digagas oleh Spedagi, produsen sepeda bambu,  yang diadakan di Desa Caruban, Kandangan, Temanggung, tahun 2016. Akibat satu dan lain hal, Pasar Papringan di Desa Caruban berhenti. Kemudian, pada tahun 2017 mereka berkolaborasi dengan kelompok asal Dusun Ngadiprono yaitu Komunitas Mata Air untuk membuka Pasar Papringan di Dusun Ngadiprono.


Sejak awal, Pasar Papringan sudah memiliki konsep sistem keuangan menggunakan pring, yaitu potongan bambu sebagai mata uang untuk bertransaksi di Pasar Papringan. Satu buah pring setara dengan dua ribu rupiah. Pring digunakan sebagai sistem untuk mempermudah manajemen keuangan para pedagang dan penyelenggara Pasar Papringan.


Uang Pring 


Selain itu, semua bahan pangan yang digunakan di Pasar Papringan juga bebas dari plastik, tepung terigu, dan msg. Hal ini berangkat dari sikap penyelenggara Pasar Papringan yang ingin menggunakan bahan yang berasal atau dapat diambil dari Dusun Papringan. “Jika desa tidak menghasilkan plastik, maka kenapa desa harus menghasilkan limbah plastik?” Tutur Panji, salah satu fasilitator Pasar Papringan Ngadiprono. 


Pukul tujuh menjelang, semua pedagang sudah siap menjajakan dagangannya. Berbagai macam makanan tradisional Jawa, dari camilan hingga makanan berat tersaji. Menurut kami, ini juga bagian dari seni, melestarikan makanan tradisional dengan resep warisan leluhur. Berbagai camilan seperti wajik, klepon, tiwul, godogan kacang dan jagung, bermacam-macam jenang dan bubur, hingga makanan berat seperti nasi lesah, sego jagung, kupat tahu, dan gorengan.

Sego Jagung


Macam-macam minuman tradisional juga tersedia. Jamu tradisional, wedang uwuh, wedang telang, dan yang menurut kami paling unik adalah wedang pring, seduhan daun bambu dengan tambahan kayu manis dan cengkeh yang sedap. 


Tidak hanya berbagai makanan dan minuman saja yang tersedia di Pasar Papringan. Terdapat lapak hasil bumi berupa sayur-sayuran, kerajinan bambu, bahkan hewan peliharaan seperti hamster dan ayam. Tidak lupa berbagai mainan tradisional berbahan bambu juga tersedia di Pasar Papringan. Selain itu, dilarang merokok sembarangan di Pasar Papringan, telah disediakan area merokok khusus di sudut-sudut pasar. 


Terdapat juga dolanan tradisional yang dapat dimainkan gratis oleh pengunjung, seperti egrang, ayunan dan jungkat-jungkit yang terbuat dari bambu. Selain itu, kami memperhatikan bahwa alas batu di Pasar Papringan sangat artistik, ini adalah karya pak Rur dan kawan-kawan dari Laskar Trasah Watu Sidotopo. Mereka memang ahli menyusun batu menjadi hiasan maupun jalan di Temanggung. 


Jalan Trasah 


Perlu diingat, Pasar Papringan Ngadiprono hanya buka setiap hari Minggu Pon dan Minggu Wage. Jika berkunjung ke Pasar Papringan Ngadiprono dari luar Temanggung, warga Dusun Ngadiprono juga menyediakan homestay di tiap-tiap rumah. Pengunjung bisa meminta kontak warga langsung atau menghubungi instagram @pasarpapringan untuk informasi lebih lanjut. 


Kapan-kapan lagi!